INFOACEH45 | Peunaron, Aceh Timur — Suasana haru menyelimuti pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Masjid Pajak Peunaron. Khutbah yang disampaikan khatib mengajak jamaah untuk merenungi kembali kualitas ibadah dan hubungan dengan orang tua.
“Seburuk-buruknya manusia adalah yang hanya mengenal taat kepada Allah di bulan Ramadhan. Bahkan lebih buruk lagi, mereka yang di bulan Ramadhan pun tidak mengenal ketaatan,” ujarnya.
Khatib juga mengingatkan adanya golongan yang terancam tidak diterima amalnya, di antaranya anak yang durhaka kepada orang tua serta istri yang durhaka kepada suami.
Suasana semakin hening saat khatib, dengan suara bergetar, mengisahkan perjuangan seorang ibu.
Ia menggambarkan bagaimana seorang ibu mempertaruhkan nyawanya saat melahirkan, berlumuran darah demi menghadirkan kehidupan bagi anaknya. Setelah itu, bukan istirahat yang ia pilih—melainkan kembali berjuang.
Di bawah terik matahari, ia turun ke sawah. Dengan tubuh lelah, ia tetap menanam padi, sementara anak kecilnya digendong di punggungnya. Bukan karena kuat, tapi karena cinta—agar anaknya tidak menangis sendirian di rumah.
Hari demi hari berlalu. Ia mencari upahan, mengumpulkan receh demi receh. Dari keringat itu, ia membeli beras, memasaknya dengan penuh kasih, lalu menyuapkannya perlahan ke mulut kecil anaknya—dengan harapan kelak anak itu tumbuh menjadi manusia yang baik.
Namun, suara khatib mulai bergetar…
“Mulut kecil yang dulu disuapi dengan penuh cinta… hari ini, sudah berani membentak ibunya,” ucapnya lirih.
Ia pun menegaskan dengan nada dalam,
“Kau bisa berdiri hari ini… punya pekerjaan, punya kehidupan… itu semua karena air mata dan perjuangan ibumu.”
Jamaah terdiam. Beberapa menunduk, sebagian tak mampu menahan air mata.
Khutbah tersebut menjadi pengingat mendalam bahwa Idul Fitri bukan sekadar perayaan, tetapi momentum untuk kembali berbakti, memperbaiki diri, dan memuliakan orang tua selagi masih ada.

0 Komentar